Postingan

Dan, tetap aku di sini

Gambar
  Sumber gambar:  Hipwee Gemericik air sungai, dalam fraksi sepersekian detik menari-nari memecah lorong kesunyian yang tercipta di bayang-bayang taman langit senja hari ini. Semilir angin melambai sedemikian cepat, pertanda semilir angin sepenuh jiwa berpihak pada langit senja. Dan di ruang waktu yang bersamaan jua, aku terduduk bersandar ke sebilah batang pohon yang tertancap sekian tegaknya melingkupi segelintir ilalang kecil yang menari bergoyang. Hampa sesosok tunggal tak pernah merenungi senja ditemani kawan-kawan terbaik lagi sampai hari ini pun lepas anjangsana bulan lalu. Beberapa minggu sebelum berpisah dengan tahun lama.  Dan, tetap aku disini. Tiada pernah beranjak mengarungi bumi menuju sudut lainnya. Padang rumput Eropa tak lain tak bukan adalah tempat terbaik bagiku 'tuk beristirahat melepas penat dikarena hembusan anginnya yang tampak begitu sempurna ketimbang padang rumput di kota satelit. Mulanya sudah kubayangkan andai padang rumput kota sate...

Prahara laut Januari

Tercetusnya api di tengah sumbu kapal laut hanya satu hari berselang selepas miliyaran anak manusia dengan begitu gembiranya menyambut tahun baru lepas mengucap selamat tinggal pada tahun terdahulu, spontan menghentak ruang hati banyak orang. Berkisahnya api yang dengan amat sangat lahap menggelung badan Kapal Motor (KM) Zuhro teruntuk jalur pelayaran Muara Angke-Pulau Tidung segera menghiasi kelopak mata banyak anak manusia dikarena kapal tersebut tengah pergi berlayar sambil ia mengangkut 247 penumpang yang sebagian dapat menyelamatkan diri, dan sisanya mesti ikhlas digelung oleh betapa garangnya bara api. Dan entah, apa wujudnya nasib sebagian anak manusia yang masih belum dapat ditampak lagi.  Kisah bersalut berita sedih tersebut rupanya tak menjatuhkan diri sesosok guru muda yang tiada pernah jemu menyapa kisah masa lalunya. Di senjakala ini, aku merelakan jiwa digelung belaian senja nan indah sambil pandanganku mengarah pada laut sejauh mata memandang, di Pantai Parangtr...

Sabda Taman Langit

Gambar
Taman langit seakan mengorek lagi celah teruntuk jiwa-jiwa yang telah sepi ketika hari yang cerah tiba. Mentari menggurat sinar kian benderang bagai sembur api pencetus semangat yang takkan padam hingga berapapun usia terhitung jumlahnya. Aku memeluk lagi kehangatan sinar matahari pagi, seorang diri sementara dalam ketidakpastian mengenai kehadiran teman-teman terbaik yang masih akan bisa menyamai kisah tahun kemarin. Walau sejatinya ingin aku meniti kisah dalam pelukan latar dan arah navigasi jalan cerita yang baru. Namun kehampaan niat kepalang sudah menutup harapan. Masih dibalut kesendirian, aku merelakan hampa memeluk.  Terdengar alangkah nyaringnya suara anak-anak burung Kutilang yang tersesat pagu tatkala fajar menyingsing kendati belum tinggi memang. Anak-anak Kutilang tadi rupanya masih menanti fajar bertakhta di payung langit bumi dan entah harap apa yang mereka junjung tinggi. Dan berkicaunya anak-anak Kutilang tadi, menyeret lagi ingatanku pada awal mula gurata...

Teruntuk jumpa yang tak sampai

Gambar
Sumber gambar:  WallpapersWide.com Pun dalam penghujung tahun ini, mulai aku jemu mengguratkan cerita mengenai pengembaraanku bersama kawan-kawan anak gadis dan bujang di tanah Eropa ketika langit senja memeluknya begitu erat ketika ku memutuskan bersauh pada hamparan rumput-rumput bergoyang ataulah ladang bunga bersama sepetak telaga buatan pemantul bayangan taman langit. Di bibir telaga inilah beragam kisah aku awali teruntuk tiga (terkadang empat) anak dara cantik sambil mereka mengurut paha kanan-kirinya. Cantik, aduhai aku katakan bila diberi celah untuk memuji keelokan garis wajah para anak gadis tersebut. Dan tatkala cerita menemukan epilog, kembali aku meneruskan perjalanan mengucap selamat tinggal pada bayangan taman langit dalam suatu senja nan indah.  Tiada aku tahu, mesti di titik mana lagi aku bersauh lepas menempuh perjalanan panjang. Seperti apa pun bagaimana kisah bersauh tertulis mesti, jua cerita apa yang ingin ditepikan pula dengan siapa aku berce...

Indah yang tak sampai

Gambar
  Sumber gambar:  Getty Images Di muka bumi ini, aku rupanya baru menyadari bilamana banyak manusia yang memandang perpisahan ialah titik dimana air mata bergelimang lebat melukis bercabang-cabang sungai kecil di garis wajah ketika ulu hati masih disesak kenangan indah yang akan selalu sukar dilenyap, pun tetap dipandang perjumpaan terakhir bak takkan pernah lagi sepanjang hayat. Sudilah aku menerima pandangan yang demikian. Tetapi di balik pandangan itu, aku menemukan makna lain akan suatu perpisahan yang pastinya kuyakini, belum banyak anak-anak manusia tahu maknanya. Teruntuk empat dara cantik, ingin aku menepikannya pada hati kalian tempat aku selalu bersandar dalam teduh.  Persandaran cinta itu terulang kembali hari ini. Di sebilah batang pohon yang rimbun berdiri tegak menaungi segelintir ilalang bergoyang ini, aku bersandar menguapkan lelah teruntuk palung jiwa-ragaku di tengah pengembaraan panjang ini. Kusebut lagi negeri Belanda. Pengembaraan ini dimul...

Akar prahara tiada ujung

Gambar
  Sumber gambar:  HD Wallpapers Sepi sudah situasi di tiap sudut sekolah, senjakala ini. Murid-muridku, sudah kembali ke masing-masing rumah agar dibuai pada belai ibunya persis bagai anak-anak kutilang ataulah gelatik yang telah kembali ke sangkarnya. Aku termangu seorang diri di ruang kelas nan sunyi ini. Menatap lagi seluruh sudut kelas cukup satu hari jelang masa libur panjang ini. Tinggal aku sendiri yang belum beranjak pulang pada sangkar di senjakala. Aku mengingat lagi akan senang dan sedih menjelang sepenggal masa libur panjang. Dapatlah senang karena tiada banyak beban menggantung pekat, namun haruslah sedih lantaran takkan menjumpa murid-murid mencakup Stevie. Kuyakin sepenuh hati, saat ini jua ia telah terbuai pada belai sang ibu.  Andai ku menjumlah lagi perjalanan hari, baru aku tersadar belakangan ini bilamana telah lama aku tak menggurat lagi beragam kisah tentang anak-anak dara bersama bujang di sekolah sebagaimana isi larik ceritaku di pembuka...

Anjangsana penebah rindu akan bersabdanya nada

Gambar
Sumber gambar:  SHuSHI168.com Gagal. Bahasa tak sepuitis dulu.  Penggalan kalimat pendek tadi kini mendorong kesadaranku agar terkumpul sepenuhnya tatkala ku pergi mengembara melintas jalanan dari Groningen di tepi utara Belanda hingga Rotterdam, sepetak tanah kota yang bersandar pada tepi garis Samudera Atlantik. Andai ku boleh menghitung, satu tahun sudah aku gemar menuliskan kisah-kisah sekeliling pengembaraan di Eropa khususnya Negeri Kincir Angin seraya ku ditemani Mobil VW Kuno si kawan bisu pengisi larik cerita. Anjangsana pun bagai telah lama aku peluk, bak aku merangkul kembali hati empat gadis terdekatku belakangan ini. Aku menilik lagi ke sisi belakang mobil melewati kaca spion tengah, empat dara cantik di sana tengah asyik membuai diri untuk keindahan alam Negeri Kincir Angin biar aku Guru Bahasa Jerman. Bahkan kusaksikan sendiri, Stevie merebahkan kepala di atas pangkuan paha kiri Maureen lepas ia menebah paha kiri si gadis penyuka kupluk abu-abu tadi. Se...